Di suatu sore yang tenang di perpustakaan Madani Desa Selebung, langkah saya terhenti pada sebuah rak yang menampilkan beragam buku klasik dan modern. Mata saya terpaku pada satu sampul buku: “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.
Sampulnya tidak hanya menyapa, tetapi seolah memanggil, menghidupkan kembali penggalan kenangan saat awal kuliah, di mana saya sangat menyukai bacaan tentang Sejarah, puisi dan sastra, bagi saya bacaan seperti itu akan terus melekat dipikiran dan menggugah rasa.
Deretan judul-judul buku yang pernah saya baca Kembali terlintas dalam ingatan saya diantaranya “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai” karya Emha Ainun Nadjib, “Sang Nabi” dari imajinasi puitis Kahlil Gibran, “Sidelines: Catatan Pinggir” oleh Goenawan Mohamad, dan “Hai Ma, Barangkali Karena Bulan” oleh W.S. Rendra. Namun kali ini, Bumi Manusia karya Pramoedya menantang saya Kembali unruk membacanya bukan hanya untuk mendidihkan ingatan, tetapi juga nurani kebangsaan saya.
Buku ini menguliti zaman colonial dengan narasi yang tajam dan humanis. Bukan sekedar cerita, melainkan anatomi dari luka sejarah bangsa ini yang tertoreh sejak penjajahan, melalui tokoh-tokoh seperti Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh. Dalam tiap lembarannya, kita dihadapkan pada pertarungan nilai, pendidikan, cinta, kuasa, dan kebangsaan. Makna realitasnya terlihat dari relasi tokoh dan konteks kolonial, berpadu dengan makna konotatif tentang pembebasan, harga diri, dan identitas.
Bumi Manusia, bukan sekadar novel sejarah. Ia adalah naskah kesaksian sosial yang menelanjangi ketimpangan relasi kuasa antara penjajah Belanda dan pribumi di akhir abad ke-19. Lewat tokoh utama Minke, seorang pribumi terpelajar yang belajar menulis dan berpikir bebas. Pramoedya menunjukkan ketegangan antara kebudayaan Timur dan Barat, antara sistem kolonial dan keinginan akan kebebasan.
Jika kita bandingkan dengan realitas Indonesia hari ini, di usia kemerdekaan ke-80, kita menemukan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Buku ini menjadi cermin kritis bahwa kolonialisme kerap menjelma dalam wajah baru yakni kesenjangan sosial, feodalisme birokrasi, hingga kolonialisasi digital.
Dalam kacamata teori Mao Tse Tung pada tulisannya yang dimuat di buku kontradiksi, kisah dalam Bumi Manusia adalah bentuk nyata kontradiksi antara kelas terjajah dan kelas penjajah. Minke, si terpelajar dari pribumi, harus menavigasi identitasnya di antara dua kutub dunia. Mao menyebut ini sebagai ‘kontradiksi pokok’, yang menjadi penggerak utama sejarah. Kontradiksi ini pula yang kemudian pada masa kini bermetamorfosis dalam bentuk ketimpangan akses pendidikan, ekonomi, dan partisipasi politik.
Refleksi ini menjadi semakin tajam ketika dikaitkan dengan bacaan lain, Buku Kontradiksi dan Perjuangan Kelas oleh Mao Tse Tung, Mao menjelaskan bahwa setiap masyarakat selalu berada dalam proses dialektika antara kelas yang menindas dan ditindas. Bagi Mao, perubahan sosial hanya mungkin jika kontradiksi utama, antara kekuasaan dan rakyat diatasi. Di Indonesia, meski telah merdeka, kontradiksi ini masih nyata dalam bentuk oligarki politik dan ekonomi.
Sedangkan Amien Rais, dalam "Politik Adiluhung", menekankan perlunya nilai etika dan spiritual dalam praktik politik. Yang menjadi patsun politik kebangsaan. Jika Minke adalah simbol kebangkitan kesadaran rakyat, maka bangsa Indonesia hari ini harus melanjutkan perjuangan itu dengan politik yang berkeadaban, adil, dan menjunjung martabat manusia.
Memperingati 80 tahun Indonesia merdeka bukan hanya mengenang, tetapi merefleksikan, apakah semangat Nyai Ontosoroh dalam memperjuangkan hak sebagai manusia telah hadir dalam wajah ibu-ibu petani hari ini? Apakah keteguhan Minke dalam memperjuangkan narasi bangsa telah menjadi inspirasi generasi muda di era informasi ini?
Buku ini, bersama pemikiran Mao dan Amien Rais, menyadarkan bahwa perjuangan bangsa adalah kerja lintas generasi, yang tidak boleh berhenti di proklamasi. Literasi menjadi alat perlawanan baru. Dan membaca menjadi bentuk keikutsertaan dalam republik pengetahuan, yang adil dan merdeka.
Kutipan yang saya suka dari buku ini “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Kutipan ini menjadi pengingat bahwa literasi dan refleksi adalah fondasi kemerdekaan yang sejati. Karena hanya dengan memahami sejarah dan ide-ide besar yang menggerakkan zaman, bangsa ini bisa tetap berdiri tegak, bukan sekedar karena bendera, tetapi karena kesadaran kolektif dan cita-cita luhur yang terus diperjuangkan.
Catatan ini bukan hanya nostalgia, tapi panggilan untuk terus membaca, memahami, dan bertindak.
Next .... desa mengepung kota
Husen
23 Agustus 2025 19:48:56
Kereen...